PARHOLONG: Cerpen Janji Sahabat

Cerpen Janji Sahabat



JANJI SAHABAT
Kisah 3 sahabat


        Pagi itu langit agak murung. Angin sepoi berbisik mesra membelai dedaunan. Aku melangkahkan kakiku dengan mantap keluar dari rumah. Aku berjalan dengan santainya tanpa ada perasaan apapun yang mengganjal didalam hatiku. Tujuanku cuman satu, ”Kerumah sahabatku, ” yang tidak jauh ditempuh dengan berjalan kaki.
       Tidak lama tiba juga aku di depan rumah Richard. Langit di angkasa yang mulai menghitam bereriak-teriak memukul-mukul gendang telinga, tak mau kalah angin berlari menabrak semua semaunya.
       Sesaat tanganku hedak mengetuk pintu, tiba-tiba tubuhku merinding mengubah hatiku menjadi H2C (Harap-Harap Cemas). Dengan perlahan ku ketukkan tanganku ke pintu,”Tuk…tuk…tuk…” tiba-tiba tertangkap oleh telingaku langkah kaki yang hendak membukakan pintu buatku. Kepalaku yang tadinya menatap lantai, dengan perlahan aku angkat sambil melihat dari bawah kaki sampai ke ujung rambut.
       Dalam pikiran ku hatiku bertanya, ”Siapa gerangan pemuda ini?” yang terasa asaing buatku.
       Tapi tanpa basa-basi aku bertanya,”Lae, dimana si Richard?”,
        Ada di kamarnya!” pemuda yang terasa asing buatku itu menjawab dengan nada yang kurang bersahabat.
        Dengan gerakan yang cepat kakiku melangkah menuju kamar atas yang merupakan satu-satunya kamar di lantai atas rumah itu. Satu dua orang atau berapa pun itu yang telah melihatku tidak aku hiraukan, perhatianku cuman satu, ”kamar atas”.
       Langit hitam di angkasa berteriak semakin menjadi-jadi disertai hembusan angin yang tidak mau kalah.
       Ketika tanganku hendak mengetuk pintu dari kamar itu, tiba-tiba tertangkapku nada-nada yang begitu menggetarkan jiwaku. Dengan gerakan refleks, tanganku langsung membukakan pintu yang menghalangi pandanganku dengan apa yang ada di kamar. “Brak”, kini, sumber dari segala kekhawatiranku telah terpampang dengan sangat jelas di depan mataku. Kedua sahabat sejatiku telah bergerumul layaknya musuh bebuyutan. Detik itu juga kilatan cahaya datang dengan suara yang menghentakkan hati, begitu juga hujan turun begitu lebatnya membasahi bumi yang kering yang telah lama tidak turun hujan. Akupun terpatung tanpa berkutik sedikitpun menyaksikan kedua sahabatku.
       Satelah beberapa saat, merekapun berhenti seperti sebuah film yang sedang pause. Mereka akhirnya menyadari keberadaanku. Dan kemudian mereka mengadukan masalahnya masing-masing.
       Dengan perdebatan yang cukup lama, akhirnya kami mendapatkan jawabannya dan menyimpulkan bahwa laki-laki yang terasa asing buatku tadi menjadi sumber utamanya. Yang tanpa kami sadari iri karena kekompakan kami. Itu juga Karena sahabatku yang tidak mau menemaninya karena kesombongannya. Walau begitu akhir-akhir ini hubungan kami mulai agak renggang karena seorang wanita yang sama-sama kami sukai.
        “Indrach, Richy aku minta maaf kepada kalian atas tindakan ku yang selama ini, “Tiba-tiba saja Richard mengungkapkan rasa bersalahnya.
        “Saya juga, maafkanlah kesalahanku yang selama ini Richard, Indrach”, Richy minta maaf juga.
        “Ya sudahlah, kalian telah menyadari kesalahan kalian masing-masing, yang penting persahabatan kita tidak ada yang bisa menghalangi. Persahabatan kita harus tetap terjalin sampai ajal menjemput ok!!!”, saya mencoba menasehati dan mengakhiri masalahnya.
        Diluar hujan belum juga reda, hujan masih turun, angin masih berhembus.
       “Sekarang, mari kita berlomba lari menuju rumah pohon kita,” aku bermaksud untuk mengenang masa-masa kecil kami yang begitu indah untuk dikenang dan begitu berharga untuk dilupakan.
       Rumah pohon adalah rumah kami bertiga yang kami bangun dengan susah payah ketika masih SD, yang selalu kami jaga sampai sekarang dengan sebaik-baiknya.
       “Hah!!! hujan-hujan begini?” mereka mejawab dengan nada yang sangat kompak.
       Yap”.
       “Satu, dua, tiga, ya!!!” aku memulai start dari kamar.
       Kami berlari dengan sekuat tenaga berharap menjadi SUPERSTAR (yang kami anggap suatu keberhasilan yang luar biasa jika sampai duluan).
        Pada saat itu kami merasa kembali kemasa lalu, menjadi anak kecil yang tidak tau malu dalam usia kami yang sudah bisa dikatakan dewasa. Semua itu tidak kami hiraukan karena kebahagiaan yang kami rasakan. Lucu memang.
        Desa kecil dengan bangunan-bangunan kuno yang masih sangat kental dengan budaya Bataknya yang indah telah menjadi saksi bisu dari kisah perjalanan persahabatan kami.
        Desa yang indah yang menyimpan begitu banyak kisah-kisah yang begitu indah dan terlalu berharga bagi hidup kami.
Desa yang damai tempat kami dibesarkan telah menjadi saksi sahabat:
“kami Indrach, Ricarchd, Richy tiga serangkai berjanji, sahabat adalah hidup yang tidak akan sirna mendebu oleh karena apa dan siapapun juga.”


Sahabat sejati selalu mengerti
apa yang terjadi sama kita
(Selalu bersama dalam suka dan duka)
“FOREVER”


                                                                                   (By IMRAN SIHOTANG )
                                                                                                             


No comments:

Post a Comment

Mengenal "Super Flu": Mengapa Gejalanya Terasa Lebih Berat?

Istilah "Super Flu" sering muncul di media sosial dan berita belakangan ini. Meskipun ini bukan istilah medis resmi, masyarakat me...