PARHOLONG: BATAK BERSATU!!! MEDAN BERGETAR!!! 10 Februari Hari Kedaulatan Babi. "SAVE BABI"

BATAK BERSATU!!! MEDAN BERGETAR!!! 10 Februari Hari Kedaulatan Babi. "SAVE BABI"

-SARJANA KARENA BABI-

Wacana pemusnahan babi oleh petinggi di Sumatra Utara sudah pasti menuai penolakan dari masyarakat.
Konsekuensi dari penolakan itu adalah hari ini tanggal 10 februari 2020 berbagai elemen masyarakat melakukan aksi demo penolakan wacana tersebut.
Setidaknya 5 puak Batak, Nias dan Tionghoa akan menolak dengan tegas wacana itu.

Saya yang tidak bisa ikut berpartisipasi dalam demo itu MENDUKUNG sepenuhnya saudara saudara saya yang sedang berjuang menyuarakan haknya di kota Medan.

Semangat terus saudaraku....
Kita bangsa pemakan babi akan terus bersatu menolak kesewenang wenangan pejabat.

TIDAK BOLEH ADA PENYERAGAMAN KESUKAAN DI INDONESIA.

===========================

Babi bagi 5 puak Batak dan Nias sangat penting dalam pelaksanaan adat.

Dalam hal ini gubernur tidak boleh menyimpulkan pendapat sepihak sesuai dengan pemikiran sendiri.

Kalau gubernur tidak mau belajar adat batak ya sudah diam saja tidak usah ikut campur.
Wacana pemusnahan babi bukanlah wacana yang smart.
Tidak ada nilai kepintaran dalam wacana itu kecuali nilai kebencian.

Kita orang batak ini sekalipun dia orang KAYA RAYA yang berpesta memotong lembu 10 ekor, tetap juga harus ada babi sebagai TUDU TUDU SIPANGANON/PARJAMBARAN.

Itulah Adat kami, jangan diusik sebab kami tidak pernah mengusik adat orang lain.

===========================

Tapi taukah pak gubernur yang terhormat selain dari adat batak itu sendiri, betapa banyaknya orang batak yang terbantu dengan keberadaan babi ?

Hampir semua anak orang batak yang bukan orang kaya bisa meraih titel sarjana dari babi.

Babi itu adalah ladang uang bagi orang batak.

Banyak yang bisa menyekolahkan anak dari babi,
Banyak yang meraih titel sarjana dari babi,
Banyak yang bisa ngawinkan anak dari babi,

Mahasiswa perantau di kota ketika akan membayar uang kuliah yang pertama sekali "diputar" orang tuanya di kampung sana adalah menjual babi.

Makanya banyak orang batak sekalipun susah perekonomiannya bisa sarjana anaknya.

Orang batak itu tidak pernah menyerah dalam pendidikan, tidak ada gender dalam pendidikan.
Orang tua memperlakukan anak laki laki dan perempuan sama "harus sama sama sarjana".

Sekiranya pun tidak sanggup sarjana, paling tidak semua anaknya sekolah dan TAMAT.

Babi adalah ternak yang paling cepat "diputar" jika terjadi sesuatu hal yang tidak terduga.
Babi itu adalah aset.

Di babi itu ada perputaran perekonomian.
-Para penjual pakan ternak akan dapat untung dari menjual pakan
-Para peternak dapat untung dari menjual babi
-Para pengusaha rumah makan batak akan kecipratan rezeki juga dari babi panggang.
-Kotoran babi juga akan menghasilkan uang jika dijual jadi pupuk
-Bahkan pengusaha BABI PEJANTAN pun akan mendapat uang dari jasa mengawinkan babi.
Dan semua itu ujung ujunya cuma satu "BISA MENYEKOLAHKAN ANAK.

Mungkin bapak gubernur berpikir kalau anak orang susah yang kuliah itu sedang nyusun skripsi enak enak saja?

Owww gak tau si bapak ini kalau ribuan orang mahasiswa yang kos di Padang Bulan sana mengharapkan kiriman uang dari orang tuanya dari hasil penjualan babi.

Baiklah bapak gubernur tidak paham adat, kita bisa terima itu sebab wajar saja orang yang bukan batak tidak mengerti adat batak.
Tapi coba bapak lihat masalah pemusnahan babi ini dari sudut pandang pendidikan.
Mampukah pemerintah menyekolahkan anak anak kurang mampu sampai tingkat sarjana?

Pak gubernur....
Kita tidak berharap disekolahkan pemerintah, kita berusaha sendiri menyekolahkan anak anak kita semampunya minimal SMU sederajat.

Uang sekolah dan uang kuliah tidak bisa bayar terlambat, satu satunya jalan adalah menjual babi, ITU PUN DIURUSI gubernur.

Aneh kan....?

Kesimpulannya masyarakat PEMAKAN BABI tetap akan menolak wacana pemusnahan babi sebab tidak ada unsur edukasi dalam wacana itu.

===========================

AKAN TETAPI walaupun kita orang batak ini menolak dan menentang wacana pemusnahan babi, ya mbok dirubah juga lah kebiasaan buruk kita.
Bersih buat kalian kandangnya biar jangan mengganggu kenyamanan orang lain.
Limbah kandang juga jangan dibuang sembarangan supaya tidak mencemari lingkungan.
SATU LAGI kalau ada babi yang mati, kubur dong biar aman.
Jangan malasnya saja dibuat...

Malas menggali tanah, dibuang lah bangkai babi itu ke sungai.
Mana boleh begitu, babimu yang mati orang lain yang menderita. 
Jangankan bangkai babi yang haram bagi agama Islam, bangkai ayam sekalipun tidak boleh dibuang ke sungai.

Iya toh...?

Kita juga harus bisa memperbaiki image "jorok dan pemalas", jangan suka suka kita saja.
Jangan pandai mengkritik saja, harus bisa juga bekerja sama dan saling menghormati.

Intinya kita menolak wacana pemusnahan babi tapi kita juga harus perbaiki perilaku kita SUPAYA IMBANG.

-Oppung Mittop-

No comments:

Post a Comment

Mengenal "Super Flu": Mengapa Gejalanya Terasa Lebih Berat?

Istilah "Super Flu" sering muncul di media sosial dan berita belakangan ini. Meskipun ini bukan istilah medis resmi, masyarakat me...