Dalam Turi - Turian keturunan Raja lontung
Pada zaman dahulu kala, di sebuah hutan yang lebat dan sepi dari kehidupan manusia, tampaklah seekor harimau Sumatera. Ketika ia hendak berburu hewan untuk disantap, salah satu kakinya tersangkut dahan dan membuat kakinya harus jalan dengan terpincang.
Dari kejauhan, harimau sudah melihat ada rusa, dan memasang kuda-kuda untuk segera menerkam si rusa tersebut. Harimau pun mencengkeram erat rusa dan memakannya dengan lahap. Karena terlalu lahap, salah satu rusuk rusa itu tersangkut di kerongkongan si harimau.
Harimau pun merasa kesakitan. Ia terus berjalan hendak mencari pertolongan. Karena, rusuk yang ada di dalam kerongkongannya mulai melukai bagian leher harimau.
Sampailah si harimau di salah satu rumah yang ada dekat hutan, hanya rumah itulah yang berada di hutan tersebut. Tak ada rumah lainnya. Si harimau mengaum dan mondar-mandir di depan halaman rumah itu.
Ternyata, di dalam rumah itu ada seorang perempuan yang tinggal di sana dan dalam posisi sedang hamil besar.
Namanya Boru Pareme, dia adalah perempuan yang berzinah dengan kakak kandungnya sendiri. Hamilnya adalah hasil hubungan sedarah.
Boru Pareme dan abangnya, Saribu Raja (yang melakukan zinah), dibuang di hutan oleh kakak-kakaknya.
Boru Pareme di hutan yang terdapat harimau di dalamnya, sementara Saribu Raja dibuang ke hutan lainnya.
Kakak-kakaknya si Boru Pareme kesal karena kelakuan buruk kedua adiknya itu. Niat mereka ingin membunuh kedua adiknya, diurungkan. Karena mereka pun tidak tega.
Dibuang ke hutan merupakan alternatif membunuh mereka tanpa harus melakukannya sendiri.
Di hutan ada hewan buas, pastilah mereka akan menjadi santapannya. Begitulah pikiran kakak Boru Pareme.
Boru Pareme keluar dari dalam gubuknya, dilihatnya lah seekor harimau yang terlihat seperti akan menerkamnya.
"Biarlah aku mati, jikalau harus diterkam oleh harimau ini, aku siap," ucap si Boru Pareme dalam hati.
Boru Pareme pun menyerahkan dirinya pada si harimau tersebut.
"Makanlah aku, aku sudah siap," ucap Boru Pareme pada si harimau.
Bukannya dimakan, harimau itu justru mendekatkan dirinya pada si Boru Pareme. Harimau membuka mulutnya lebar-lebar, seolah ingin memberitahu pada si Boru Pareme.
Boru Pareme melihat ada rusuk yang menyangkut di kerongkongan si harimau itu. Lalu ia berusaha untuk mengeluarkannya. Si harimau hanya diam mengikuti apa yang dilakukan oleh si Boru Pareme.
Akhirnya rusuk yang menyangkut itu bisa dikeluarkan oleh Boru Pareme.
Si harimau mendekatkan tubuhnya dan mengelus Boru Pareme.
Sejak itu, si harimau menjaga Boru Pareme di hutan. Setiap kali berburu hewan untuk dimakan, harimau pasti membawanya juga untuk si Boru Pareme.
Sampai akhirnya waktu persalinan Boru Pareme pun tiba, ia melahirkan seorang anak laki-laki. Bayi itu dinamakan Raja Lontung.
Raja Lontung tumbuh besar dengan dirawat oleh ibunya dan juga harimau itu. Harimau pun mengajarkan Raja Lontung untuk berlatih silat dan bela diri.
Boru Pareme mengajarkan adat istiadat Batak kepada anaknya, Raja Lontung. Sehingga anaknya memiliki watak yang baik, ia tidak mau kejadian bodoh yang pernah dilakukannya dulu, akan terulang kembali. Itulah sebabnya Boru Pareme mengajarkan segala hal yang baik kepada Raja Lontung.
Sampai ketika dewasa, akhirnya Raja Lontung menikah dan memiliki 9 anak, ia masih menyayangi dan hidup berdampingan dengan harimau itu.
Raja Lontung memiliki 7 orang anak laki-laki yang dinamai; 1. Sinaga 2. Situmorang 3. Pandiangan 4. Nainggolan 5. Simatupang, 6. Aritonang dan 7. Siregar. Sementara 2 orang anak perempuannya menikah dengan marga Simamora dan Sihombing.
Kini, nama-nama tersebut sudah menjadi nama marga di suku Batak. Ketujuh marga itu disebut dengan keturunan Raja Lontung.
Sejak saat itu, di suku Batak, harimau itu sangat dihormati. Biasanya orang takut menyebut kata 'harimau'. Orang Batak sering mengatakan dengan sebutan 'ompungi', yang artinya kakek atau buyut. Bagi keturunan Raja lontung jika kehutan bertemu dengan harimau harus bilang"Santtabi oppung, Pinomparni Siraja lontung do au" (Permisi kakek, Keturunan Raja Lontung nya aku).
Dalam turi - turian Batak Angkola
Dahulu ketika mau memasuki hutan atau membuka perladangan, orang Batak terlebih dulu meminta izin kepada Babiat Sitelpang yang dianggap penguasa wilayah. "Sattabi Ompung, giot mamolus hami di ingananmon (permisi Ompung, kami mau lewat dari tempatmu ini)," demikian sering diucapkan ketika melewati sebuah hutan.
Masyarakat Batak angkola mengakui bahwa harimau cukup beradat. Dia tak akan mengganggu orang yang tak ada salahnya. Dan telah banyak orang yang bercerita, bila ia ketemu dengan harimau, kita lebih baik diam daripada lari. Karena jika kita berlari, dia akan beranggapan kita punya salah.
Dan adat harimau ini, terlihat ketika musim durian di tanah angkola. Jika kita sedang menjaga durian di malam hari menunggu durian runtuh, sebaiknya kita jangan mengambil semua hasilnya. Kita meninggalkan sebagian untuk harimau. Kalau tidak, dìa nantinya akan mengaum dari balik rimba. Demikian juga sebaliknya. Bila harimau ini yang sampai duluan, diapun tak akan mengambil semua. Dia akan meninggalkan bagian untuk kita.
Di sebagian wilayah angkola jika ada harimau masuk kampung, biasanya karena telah ada seseorang yang berbuat dosa di kampung tersebut. Contohnya bila telah ada yang berbuat zina di satu kampung biasanya harimau akan berkeliaran di desa itu selama hampir seminggu. Semua orang yang tinggal di perkampungan tahu tentang hal ini.
Dalam Turi - Turian masyarakat Garoga, Tapanuli Utara
Harimau sebagai penunjuk bila ada sengketa tanah maka Harimau tersebut bakal melewati batas tanah sebenarnya.
Juga jika ada yang berbuat zina dalam satu desa maka Harimau tersebut akan memasuki kampung tersebut sebagai peringatan.
Tingginya penghormatan orang Batak terhadap harimau menjadikan karakter harimau juga diidentikan dengan karakter orang Batak yang keras, penolong, pelindung, setia berteman, dan melambangkan kekuatan.
Moccak atau seni beladiri orang Batak kabarnya juga diidentikan dengan cara bertarung harimau.
Begitulah cerita yang melegenda tentang harimau atau Babiat Sitelpang di tanah Batak. Sayangnya, tak banyak lagi yang mengetahui cerita ini dan lebih ironisnya lagi, harimau menuju ambang kepunahan karena terus diburu dan hutan sebagai rumahnya mulai hilang. Suatu saat 'ompung' ini hanya akan menjadi cerita saja tanpa wujud.

No comments:
Post a Comment